Proses terjadinya efek rumah kaca ini berkaitan dengan daur aliran panas matahari. Kurang lebih 30% radiasi matahari yang mencapai tanah dipantulkan kembali ke angkasa dan diserap oleh uap, gas karbon dioksida, nitrogen, oksigen, dan gas-gas lain di atmosfer. Sisanya yang 70% diserap oleh tanah, laut, dan awan. Pada malam hari tanah dan badan air itu relatif lebih hangat daripada udara di atasnya. Energi yang terserap diradiasikan kembali ke atmosfer sebagai radiasi inframerah, gelombang panjang atau radiasi energi panas. Sebagian besar radiasi inframerah ini akan tertahan oleh karbon dioksida dan uap air di atmosfer. Hanya sebagian kecil akan lepas ke angkasa luar. Akibat keseluruhannya adalah bahwa permukaan bumi dihangatkan oleh adanya molekul uap air, karbon dioksida, dan semacamnya. Efek penghangatan ini dikenal sebagai efek rumah kaca.
Sedangkan proses secara singkatnya yaitu ketika sinar radiasi matahari menembus kaca sebagai gelombang pendek sehingga panasnya diserapa oleh bumi dan tanaman yang ada di dalam rumah kaca tersebut. Untuk selanjutnya, panas tersebut di radiasikan kembali namun dengan panjang gelombang yang panjang(panjang geklombang berbanding dengan energi) sehingga sinar radiasi tersebut tidak dapat menembus kaca. Akibatnya, suhu di dalam rumah kaca lebih tinggi dibandingkan dengan suhu yang di luar rumah kacR
Repost :http://pinterdw.blogspot.com/2012/05/efek-rumah-kaca-mekanisme-terjadinya.html
Arsitektur adalah seni dan ilmu dalam merancang bangunan. Arsitektur mencakup merancang dan membangun keseluruhan lingkungan binaan, mulai dari level makro yaitu perencanaan kota, perancangan perkotaan, arsitektur lansekap, hingga ke level mikro yaitu desain bangunan, dst. Lingkungan binaan atau lingkungan terbangun adalah suatu lingkungan yang ditandai dominasi struktur buatan manusia. Sistem lingkungan binaan bergantung pada asupan energi, sumberdaya, dan rekayasa manusia untuk dapat bertahan.
Wednesday, November 28, 2012
DAYA DUKUNG LINGKUNGAN
Daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain. Penentuan daya dukung lingkungan hidup dilakukan dengan cara mengetahui kapasitas lingkungan alam dan sumber daya untuk mendukung kegiatan manusia/penduduk yang menggunakan ruang bagi kelangsungan hidup. Besarnya kapasitas tersebut di suatu tempat dipengaruhi oleh keadaan dan karakteristik sumber daya yang ada di hamparan ruang yang bersangkutan. Kapasitas lingkungan hidup dan sumber daya akan menjadi faktor pembatas dalam penentuan pemanfaatan ruang yang sesuai.
Daya dukung lingkungan hidup terbagi menjadi 2 (dua) komponen, yaitu kapasitas penyediaan (supportive capacity) dan kapasitas tampung limbah (assimilative capacity). Dalam pedoman ini, telaahan daya dukung lingkungan hidup terbatas pada kapasitas penyediaan sumber daya alam, terutama berkaitan dengan kemampuan lahan serta ketersediaan dan kebutuhan akan lahan dan air dalam suatu ruang/wilayah. Oleh karena kapasitas sumber daya alam tergantung pada kemampuan, ketersediaan, dan kebutuhan akan lahan dan air, penentuan daya dukung lingkungan hidup dalam pedoman ini dilakukan berdasarkan 3 (tiga) pendekatan, yaitu:
a) Kemampuan lahan untuk alokasi pemanfaatan ruang.
b) Perbandingan antara ketersediaan dan kebutuhan lahan.
c) Perbandingan antara ketersediaan dan kebutuhan air.
Agar pemanfaatan ruang di suatu wilayah sesuai dengan kapasitas lingkungan hidup dan sumber daya, alokasi pemanfaatan ruang harus mengindahkan kemampuan lahan. Perbandingan antara ketersediaan dan kebutuhan akan lahan dan air di suatu wilayah menentukan keadaan surplus atau defisit dari lahan dan air untuk mendukung kegiatan pemanfaatan ruang. Hasil penentuan daya dukung lingkungan hidup dijadikan acuan dalam penyusunan rencana tata ruang wilayah. Mengingat daya dukung lingkungan hidup tidak dapat dibatasi berdasarkan batas wilayah administratif, penerapan rencana tata ruang harus memperhatikan aspek keterkaitan ekologis, efektivitas dan efisiensi pemanfaatan ruang, serta dalam pengelolaannya memperhatikan kerja sama antar daerah.
Status daya dukung lahan diperoleh dari pembandingan antara ketersediaan lahan (SL) dan kebutuhan lahan (DL).Penentuan daya dukung lahan dilakukan dengan membandingkan ketersediaan dan kebutuhan lahan.
> Bila SL > DL , daya dukung lahan dinyatakan surplus.
> Bila SL < DL, daya dukung lahan dinyatakan defisit atau terlampaui.
Di dalam Ketentuan Umum UU RI no 23 tahun 1997 Pasal 1 Ayat 6 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, disebutkan bahwa daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain. Konsep tentang daya dukung sebenarnya berasal dari pengelolaan hewan ternak dan satwa liar. Daya dukung itu menunjukkan kemampuan lingkungan untuk mendukung kehidupan hewan yang dinyatakan dalam jumlah ekorpersatuan luas lahan.
sumber : http://pinterdw.blogspot.com/2012/06/daya-dukung-lingkungan.html
Daya dukung lingkungan hidup terbagi menjadi 2 (dua) komponen, yaitu kapasitas penyediaan (supportive capacity) dan kapasitas tampung limbah (assimilative capacity). Dalam pedoman ini, telaahan daya dukung lingkungan hidup terbatas pada kapasitas penyediaan sumber daya alam, terutama berkaitan dengan kemampuan lahan serta ketersediaan dan kebutuhan akan lahan dan air dalam suatu ruang/wilayah. Oleh karena kapasitas sumber daya alam tergantung pada kemampuan, ketersediaan, dan kebutuhan akan lahan dan air, penentuan daya dukung lingkungan hidup dalam pedoman ini dilakukan berdasarkan 3 (tiga) pendekatan, yaitu:
a) Kemampuan lahan untuk alokasi pemanfaatan ruang.
b) Perbandingan antara ketersediaan dan kebutuhan lahan.
c) Perbandingan antara ketersediaan dan kebutuhan air.
Agar pemanfaatan ruang di suatu wilayah sesuai dengan kapasitas lingkungan hidup dan sumber daya, alokasi pemanfaatan ruang harus mengindahkan kemampuan lahan. Perbandingan antara ketersediaan dan kebutuhan akan lahan dan air di suatu wilayah menentukan keadaan surplus atau defisit dari lahan dan air untuk mendukung kegiatan pemanfaatan ruang. Hasil penentuan daya dukung lingkungan hidup dijadikan acuan dalam penyusunan rencana tata ruang wilayah. Mengingat daya dukung lingkungan hidup tidak dapat dibatasi berdasarkan batas wilayah administratif, penerapan rencana tata ruang harus memperhatikan aspek keterkaitan ekologis, efektivitas dan efisiensi pemanfaatan ruang, serta dalam pengelolaannya memperhatikan kerja sama antar daerah.
Status daya dukung lahan diperoleh dari pembandingan antara ketersediaan lahan (SL) dan kebutuhan lahan (DL).Penentuan daya dukung lahan dilakukan dengan membandingkan ketersediaan dan kebutuhan lahan.
> Bila SL > DL , daya dukung lahan dinyatakan surplus.
> Bila SL < DL, daya dukung lahan dinyatakan defisit atau terlampaui.
Di dalam Ketentuan Umum UU RI no 23 tahun 1997 Pasal 1 Ayat 6 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, disebutkan bahwa daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain. Konsep tentang daya dukung sebenarnya berasal dari pengelolaan hewan ternak dan satwa liar. Daya dukung itu menunjukkan kemampuan lingkungan untuk mendukung kehidupan hewan yang dinyatakan dalam jumlah ekorpersatuan luas lahan.
sumber : http://pinterdw.blogspot.com/2012/06/daya-dukung-lingkungan.html
Tuesday, October 9, 2012
Konsep Green architecture/ arsitektur hijau oleh Budi Pradono
Konsep ‘green architecture’ atau arsitektur hijau menjadi topik yang menarik saat ini, salah satunya karena kebutuhan untuk memberdayakan potensi site dan menghemat sumber daya alam akibat menipisnya sumber energi tak terbarukan. Berbagai pemikiran dan interpretasi arsitek bermunculuan secara berbeda-beda, yang masing-masing diakibatkan oleh persinggungan dengan kondisi profesi yang mereka hadapi. Salah satunya konsep ‘green’ oleh Budi Pradono, seorang arsitek yang sudah dikenal di mancanegara dengan berbagai award internasional yang sudah diraihnya.
‘Green Architecture’ oleh Budi Pradono
Profesi arsitek saat ini sedang mengalami tekanan yang kuat untuk melakukan perubahan besar dalam metode merancang dan juga melakukan absorbsi teknologi yang cepat agar dapat menghasilkan rancangan yang kontemporer yang berorientasi pada Arsitektur Hijau (green architecture), yang lebih tanggap pada isu-isu lingkungan. Saat ini Best Practice selalu dikaitkan dengan etika arsitek dalam mengantisipasi pemanasan global, penghematan energy, dan pengelolaan lingkungan yang lebih bertanggung-jawab. (Budi Pradono)
Saat menjelaskan tentang green design, Budi Pradono menggunakan contoh-contoh dari desain yang ia hasilkan, baik yang menurutnya ‘green’ atau ‘tidak green’. Profesi arsitek dewasa ini menuntut kita untuk melihat ‘green’ sebagai kesatuan dalam desain bangunan, dimana sekarang ini banyak award khusus diberikan pada bangunan yang ‘green’ dengan berbagai kriteria.
‘Green’ dapat diinterpretasikan sebagai sustainable (berkelanjutan), earthfriendly (ramah lingkungan), dan high performance building (bangunan dengan performa sangat baik). Ukuran ‘green’ ditentukan oleh berbagai faktor, dimana terdapat peringkat yang merujuk pada kesadaran untuk menjadi lebih hijau. Di negara-negara maju terdapat award, pengurangan pajak, insentif yang diberikan pada bangunan-bangunan yang tergolong ‘green’.
Yang sering menjadi pertanyaan adalah bagaimana mendesain sebuah bangunan yang ‘green’ sekaligus memiliki estetika bangunan yang baik? Karena bisa saja bangunan memiliki fasilitas yang mendukung konsep green, namun ternyata secara estetika terlihat kurang menarik. Dalam hal ini, peran arsitek menjadi penting. Standar bangunan yang ‘green’ juga bisa menuntut lebih banyak dana, karena fasilitas yang dibeli agar bangunan menjadi ‘green’ tidak murah, misalnya penggunaan photovoltaic (sel surya pembangkit listrik). Teknologi agar bangunan menjadi ‘green’ biasanya tidak murah.
Indikasi arsitektur disebut sebagai ‘green’ jika dikaitkan dengan praktek arsitektur antara lain penggunaan renewable resources (sumber-sumber yang dapat diperbaharui, passive-active solar photovoltaic (sel surya pembangkit listrik), teknik menggunakan tanaman untuk atap, taman tadah hujan, menggunakan kerikil yang dipadatkan untuk area perkerasan, dan sebagainya.
Konsep ‘green’ juga bisa diaplikasikan pada pengurangan penggunaan energi (misalnya energi listrik), low energy house dan zero energy building dengan memaksimalkan penutup bangunan (building envelope). Penggunaan energi terbarukan seperti energi matahari, air, biomass, dan pengolahan limbah menjadi energi juga patut diperhitungkan.
Arsitektur hijau tentunya lebih dari sekedar menanam rumput atau menambah tanaman lebih banyak di sebuah bangunan, tapi juga lebih luas dari itu, misalnya memberdayakan arsitektur atau bangunan agar lebih bermanfaat bagi lingkungan, menciptakan ruang-ruang publik baru, menciptakan alat pemberdayaan masyarakat, dan sebagainya.
Budi Pradono menjelaskan tentang konsep ‘green’ dalam rancangannya melalui contoh, misalnya pada rancangan Bloomberg Office, dimana diterapkan desain yang mendukung pencahayaan alami dapat bermanfaat untuk keseluruhan lantai kantor, penggunaan alat yang dapat mendeteksi cahaya alami untuk mengurangi penggunaan pencahayaan buatan, yang merupakan salah satu contoh efisiensi pencahayaan.
Pada ‘K-house’ yang dirancangnya untuk rumah mungil dengan 3 orang penghuni dan 5 ekor anjing, konsep arsitektur hijau diterapkan pada rancangan desain yang dibuat agar anjing-anjing tidak mudah lepas dan mengganggu tetangganya. Rumah ini mengetengahkan konsep rumah ‘kandang’ dengan jeruji-jeruji besinya, yang didesain dengan artistik sehingga menghilangkan kesan kandang dan menimbulkan artikulasi arsitektur baru dengan estetika yang unik.
Ahmett Salina Studio di Jakarta Selatan adalah salah satu rancangan dimana open space ditambahkan agar ruang hijau didepan bangunan lebih luas dan dapat digunakan bersama dengan tetangga-tetangganya. Rumah ini juga ‘menggunakan dinding tetangga’ untuk penghematan resource, serta memanfaatkan elemen bambu untuk secondary skin yang dapat menetralisir panas matahari.
AA house di Cipinang, Jakarta Timur dikonsep dengan keleluasaan ruang-ruang untuk saling overlap satu sama lainnya. Ruang tamu dan musholla dapat dibuka dan mencairkan ruang lebih luas. Roof garden dibuat pada tiap lantai hingga atapnya.
Dari konsep-konsep desain tersebut, terdapat upaya Budi Pradono untuk menghadirkan ‘green design’ dalam rancangan arsitekturnya, dimana letak ‘green’ pada tiap bangunan bisa berbeda sesuai dengan tuntutan dan kondisi yang ada.
Sumber: Materi seminar ‘Good business with Green Design’, yang diadakan oleh Majalah Bale, Universitas Brawijaya oleh Budi Pradono, yang termasuk dalam 57 arsitek Asia terinovatif dalam buku Young Asian Architects, DAAB, Stutgart Jerman, 2006, dan mendapat kesempatan untuk mempresentasikan karyanya dalam World Architecture Festival 22-24 October di Barcelona (http://probohindarto.wordpress.com/2008/11/10/konsep-green-architecture-arsitektur-hijau-oleh-budi-pradono/)
‘Green Architecture’ oleh Budi Pradono
Profesi arsitek saat ini sedang mengalami tekanan yang kuat untuk melakukan perubahan besar dalam metode merancang dan juga melakukan absorbsi teknologi yang cepat agar dapat menghasilkan rancangan yang kontemporer yang berorientasi pada Arsitektur Hijau (green architecture), yang lebih tanggap pada isu-isu lingkungan. Saat ini Best Practice selalu dikaitkan dengan etika arsitek dalam mengantisipasi pemanasan global, penghematan energy, dan pengelolaan lingkungan yang lebih bertanggung-jawab. (Budi Pradono)
Saat menjelaskan tentang green design, Budi Pradono menggunakan contoh-contoh dari desain yang ia hasilkan, baik yang menurutnya ‘green’ atau ‘tidak green’. Profesi arsitek dewasa ini menuntut kita untuk melihat ‘green’ sebagai kesatuan dalam desain bangunan, dimana sekarang ini banyak award khusus diberikan pada bangunan yang ‘green’ dengan berbagai kriteria.
‘Green’ dapat diinterpretasikan sebagai sustainable (berkelanjutan), earthfriendly (ramah lingkungan), dan high performance building (bangunan dengan performa sangat baik). Ukuran ‘green’ ditentukan oleh berbagai faktor, dimana terdapat peringkat yang merujuk pada kesadaran untuk menjadi lebih hijau. Di negara-negara maju terdapat award, pengurangan pajak, insentif yang diberikan pada bangunan-bangunan yang tergolong ‘green’.
Yang sering menjadi pertanyaan adalah bagaimana mendesain sebuah bangunan yang ‘green’ sekaligus memiliki estetika bangunan yang baik? Karena bisa saja bangunan memiliki fasilitas yang mendukung konsep green, namun ternyata secara estetika terlihat kurang menarik. Dalam hal ini, peran arsitek menjadi penting. Standar bangunan yang ‘green’ juga bisa menuntut lebih banyak dana, karena fasilitas yang dibeli agar bangunan menjadi ‘green’ tidak murah, misalnya penggunaan photovoltaic (sel surya pembangkit listrik). Teknologi agar bangunan menjadi ‘green’ biasanya tidak murah.
Indikasi arsitektur disebut sebagai ‘green’ jika dikaitkan dengan praktek arsitektur antara lain penggunaan renewable resources (sumber-sumber yang dapat diperbaharui, passive-active solar photovoltaic (sel surya pembangkit listrik), teknik menggunakan tanaman untuk atap, taman tadah hujan, menggunakan kerikil yang dipadatkan untuk area perkerasan, dan sebagainya.
Konsep ‘green’ juga bisa diaplikasikan pada pengurangan penggunaan energi (misalnya energi listrik), low energy house dan zero energy building dengan memaksimalkan penutup bangunan (building envelope). Penggunaan energi terbarukan seperti energi matahari, air, biomass, dan pengolahan limbah menjadi energi juga patut diperhitungkan.
Arsitektur hijau tentunya lebih dari sekedar menanam rumput atau menambah tanaman lebih banyak di sebuah bangunan, tapi juga lebih luas dari itu, misalnya memberdayakan arsitektur atau bangunan agar lebih bermanfaat bagi lingkungan, menciptakan ruang-ruang publik baru, menciptakan alat pemberdayaan masyarakat, dan sebagainya.
Budi Pradono menjelaskan tentang konsep ‘green’ dalam rancangannya melalui contoh, misalnya pada rancangan Bloomberg Office, dimana diterapkan desain yang mendukung pencahayaan alami dapat bermanfaat untuk keseluruhan lantai kantor, penggunaan alat yang dapat mendeteksi cahaya alami untuk mengurangi penggunaan pencahayaan buatan, yang merupakan salah satu contoh efisiensi pencahayaan.
Pada ‘K-house’ yang dirancangnya untuk rumah mungil dengan 3 orang penghuni dan 5 ekor anjing, konsep arsitektur hijau diterapkan pada rancangan desain yang dibuat agar anjing-anjing tidak mudah lepas dan mengganggu tetangganya. Rumah ini mengetengahkan konsep rumah ‘kandang’ dengan jeruji-jeruji besinya, yang didesain dengan artistik sehingga menghilangkan kesan kandang dan menimbulkan artikulasi arsitektur baru dengan estetika yang unik.
Ahmett Salina Studio di Jakarta Selatan adalah salah satu rancangan dimana open space ditambahkan agar ruang hijau didepan bangunan lebih luas dan dapat digunakan bersama dengan tetangga-tetangganya. Rumah ini juga ‘menggunakan dinding tetangga’ untuk penghematan resource, serta memanfaatkan elemen bambu untuk secondary skin yang dapat menetralisir panas matahari.
AA house di Cipinang, Jakarta Timur dikonsep dengan keleluasaan ruang-ruang untuk saling overlap satu sama lainnya. Ruang tamu dan musholla dapat dibuka dan mencairkan ruang lebih luas. Roof garden dibuat pada tiap lantai hingga atapnya.
Dari konsep-konsep desain tersebut, terdapat upaya Budi Pradono untuk menghadirkan ‘green design’ dalam rancangan arsitekturnya, dimana letak ‘green’ pada tiap bangunan bisa berbeda sesuai dengan tuntutan dan kondisi yang ada.
Sumber: Materi seminar ‘Good business with Green Design’, yang diadakan oleh Majalah Bale, Universitas Brawijaya oleh Budi Pradono, yang termasuk dalam 57 arsitek Asia terinovatif dalam buku Young Asian Architects, DAAB, Stutgart Jerman, 2006, dan mendapat kesempatan untuk mempresentasikan karyanya dalam World Architecture Festival 22-24 October di Barcelona (http://probohindarto.wordpress.com/2008/11/10/konsep-green-architecture-arsitektur-hijau-oleh-budi-pradono/)
Monday, October 8, 2012
Green Architecture (Arsitektur Hijau)
Green Architecture atau sering disebut sebagai Arsitektur Hijau adalah arsitektur yang minim mengonsumsi sumber daya alam, ternasuk energi, air, dan material, serta minim menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan. (Arsitektur Hijau, Tri Harso Karyono, 2010)
Arsitektur hijau merupakan langkah untuk mempertahankan eksistensinya di muka bumi dengan cara meminimalkan perusakan alam dan lingkungan di mana mereka tinggal. Istilah keberlanjutan menjadi sangat populer ketika mantan Perdana Menteri Norwegia GH Bruntland memformulasikan pengertian Pembangunan Berkelanjutan (sustaineble development) tahun 1987 sebagai pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan manusia masa kini tanpa mengorbankan potensi generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.
Keberlanjutan terkait dengan aspek lingkungan alami dan buatan, penggunaan energi, ekonomi, sosial, budaya, dan kelembagaan. Penerapan arsitektur hijau akan memberi peluang besar terhadap kehidupan manusia secara berkelanjutan. Aplikasui arsitektur hijau akan menciptakan suatu bentuk arsitektur yang berkelanjutan. Berikut ini adalah beberapa contoh gambar-gambar bangunan yang menggunakan konsep Green Architecture.
Prinsip-prinsip Green Architecture
Penjabaran prinsi-prinsip green architecture beserta langkah-langkah mendesain green building menurut: Brenda dan Robert Vale, 1991, Green Architecture Design fo Sustainable Future:
A. Conserving Energy (Hemat Energi)
Sungguh sangat ideal apabila menjalankan secara operasional suatu bangunan dengan sedikit mungkin menggunakan sumber energi yang langka atau membutuhkan waktu yang lama untuk menghasilkannya kembali. Solusi yang dapat mengatasinya adalah desain bangunan harus mampu memodifikasi iklim dan dibuat beradaptasi dengan lingkungan bukan merubah lingkungan yang sudah ada. Lebih jelasnya dengan memanfaatkan potensi matahari sebagai sumber energi. Cara mendesain bangunan agar hemat energi, antara lain:
1.Banguanan dibuat memanjang dan tipis untuk memaksimalkan pencahayaan dan menghemat energi listrik.
2.Memanfaatkan energi matahari yang terpancar dalam bentuk energi thermal sebagai sumber listrik dengan menggunakan alat Photovoltaic yang diletakkan di atas atap. Sedangkan atap dibuat miring dari atas ke bawah menuju dinding timur-barat atau sejalur dengan arah peredaran matahari untuk mendapatkan sinar matahari yang maksimal.
3.Memasang lampu listrik hanya pada bagian yang intensitasnya rendah. Selain itu juga menggunakan alat kontrol penguranganintensitas lampu otomatis sehingga lampu hanya memancarkan cahaya sebanyak yang dibutuhkan sampai tingkat terang tertentu.
4.Menggunakan Sunscreen pada jendela yang secara otomatis dapat mengatur intensitas cahaya dan energi panas yang berlebihan masuk ke dalam ruangan.
5.Mengecat interior bangunan dengan warna cerah tapi tidak menyilaukan, yang bertujuan untuk meningkatkan intensitas cahaya.
6.Bangunan tidak menggunkan pemanas buatan, semua pemanas dihasilkan oleh penghuni dan cahaya matahari yang masuk melalui lubang ventilasi.
7.Meminimalkan penggunaan energi untuk alat pendingin (AC) dan lift.
B. Working with Climate (Memanfaatkan kondisi dan sumber energi alami)
Melalui pendekatan green architecture bangunan beradaptasi dengan lingkungannya. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan kondisi alam, iklim dan lingkungannya sekitar ke dalam bentuk serta pengoperasian bangunan, misalnya dengan cara:
1.Orientasi bangunan terhadap sinar matahari.
2.Menggunakan sistem air pump dan cros ventilation untuk mendistribusikan udara yang bersih dan sejuk ke dalam ruangan.
3.Menggunakan tumbuhan dan air sebagai pengatur iklim. Misalnya dengan membuat kolam air di sekitar bangunan.
4.Menggunakan jendela dan atap yang sebagian bisa dibuka dan ditutup untuk mendapatkan cahaya dan penghawaan yang sesuai kebutuhan.
C. Respect for Site (Menanggapi keadaan tapak pada bangunan)
Perencanaan mengacu pada interaksi antara bangunan dan tapaknya. Hal ini dimaksudkan keberadan bangunan baik dari segi konstruksi, bentuk dan pengoperasiannya tidak merusak lingkungan sekitar, dengan cara sebagai berikut.
1.Mempertahankan kondisi tapak dengan membuat desain yang mengikuti bentuk tapak yang ada.
2.Luas permukaan dasar bangunan yang kecil, yaitu pertimbangan mendesain bangunan secara vertikal.
3.Menggunakan material lokal dan material yang tidak merusak lingkungan.
D. Respect for User (Memperhatikan pengguna bangunan)
Antara pemakai dan green architecture mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Kebutuhan akan green architecture harus memperhatikan kondisi pemakai yang didirikan di dalam perencanaan dan pengoperasiannya.
E. Limitting New Resources (Meminimalkan Sumber Daya Baru)
Suatu bangunan seharusnya dirancang mengoptimalkan material yang ada dengan meminimalkan penggunaan material baru, dimana pada akhir umur bangunan dapat digunakan kembali unutk membentuk tatanan arsitektur lainnya.
F. Holistic
Memiliki pengertian mendesain bangunan dengan menerapkan 5 poin di atas menjadi satu dalam proses perancangan. Prinsip-prinsip green architecture pada dasarnya tidak dapat dipisahkan, karena saling berhubungan satu sama lain. Tentu secar parsial akan lebih mudah menerapkan prinsip-prinsip tersebut. Oleh karena itu, sebanyak mungkin dapat mengaplikasikan green architecture yang ada secara keseluruhan sesuai potensi yang ada di dalam site.
SUMBER : http://ndyteen.blogspot.com/2012/07/green-architecture-arsitektur-hijau.html
Arsitektur hijau merupakan langkah untuk mempertahankan eksistensinya di muka bumi dengan cara meminimalkan perusakan alam dan lingkungan di mana mereka tinggal. Istilah keberlanjutan menjadi sangat populer ketika mantan Perdana Menteri Norwegia GH Bruntland memformulasikan pengertian Pembangunan Berkelanjutan (sustaineble development) tahun 1987 sebagai pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan manusia masa kini tanpa mengorbankan potensi generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.
Keberlanjutan terkait dengan aspek lingkungan alami dan buatan, penggunaan energi, ekonomi, sosial, budaya, dan kelembagaan. Penerapan arsitektur hijau akan memberi peluang besar terhadap kehidupan manusia secara berkelanjutan. Aplikasui arsitektur hijau akan menciptakan suatu bentuk arsitektur yang berkelanjutan. Berikut ini adalah beberapa contoh gambar-gambar bangunan yang menggunakan konsep Green Architecture.
Prinsip-prinsip Green Architecture
Penjabaran prinsi-prinsip green architecture beserta langkah-langkah mendesain green building menurut: Brenda dan Robert Vale, 1991, Green Architecture Design fo Sustainable Future:
A. Conserving Energy (Hemat Energi)
Sungguh sangat ideal apabila menjalankan secara operasional suatu bangunan dengan sedikit mungkin menggunakan sumber energi yang langka atau membutuhkan waktu yang lama untuk menghasilkannya kembali. Solusi yang dapat mengatasinya adalah desain bangunan harus mampu memodifikasi iklim dan dibuat beradaptasi dengan lingkungan bukan merubah lingkungan yang sudah ada. Lebih jelasnya dengan memanfaatkan potensi matahari sebagai sumber energi. Cara mendesain bangunan agar hemat energi, antara lain:
1.Banguanan dibuat memanjang dan tipis untuk memaksimalkan pencahayaan dan menghemat energi listrik.
2.Memanfaatkan energi matahari yang terpancar dalam bentuk energi thermal sebagai sumber listrik dengan menggunakan alat Photovoltaic yang diletakkan di atas atap. Sedangkan atap dibuat miring dari atas ke bawah menuju dinding timur-barat atau sejalur dengan arah peredaran matahari untuk mendapatkan sinar matahari yang maksimal.
3.Memasang lampu listrik hanya pada bagian yang intensitasnya rendah. Selain itu juga menggunakan alat kontrol penguranganintensitas lampu otomatis sehingga lampu hanya memancarkan cahaya sebanyak yang dibutuhkan sampai tingkat terang tertentu.
4.Menggunakan Sunscreen pada jendela yang secara otomatis dapat mengatur intensitas cahaya dan energi panas yang berlebihan masuk ke dalam ruangan.
5.Mengecat interior bangunan dengan warna cerah tapi tidak menyilaukan, yang bertujuan untuk meningkatkan intensitas cahaya.
6.Bangunan tidak menggunkan pemanas buatan, semua pemanas dihasilkan oleh penghuni dan cahaya matahari yang masuk melalui lubang ventilasi.
7.Meminimalkan penggunaan energi untuk alat pendingin (AC) dan lift.
B. Working with Climate (Memanfaatkan kondisi dan sumber energi alami)
Melalui pendekatan green architecture bangunan beradaptasi dengan lingkungannya. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan kondisi alam, iklim dan lingkungannya sekitar ke dalam bentuk serta pengoperasian bangunan, misalnya dengan cara:
1.Orientasi bangunan terhadap sinar matahari.
2.Menggunakan sistem air pump dan cros ventilation untuk mendistribusikan udara yang bersih dan sejuk ke dalam ruangan.
3.Menggunakan tumbuhan dan air sebagai pengatur iklim. Misalnya dengan membuat kolam air di sekitar bangunan.
4.Menggunakan jendela dan atap yang sebagian bisa dibuka dan ditutup untuk mendapatkan cahaya dan penghawaan yang sesuai kebutuhan.
C. Respect for Site (Menanggapi keadaan tapak pada bangunan)
Perencanaan mengacu pada interaksi antara bangunan dan tapaknya. Hal ini dimaksudkan keberadan bangunan baik dari segi konstruksi, bentuk dan pengoperasiannya tidak merusak lingkungan sekitar, dengan cara sebagai berikut.
1.Mempertahankan kondisi tapak dengan membuat desain yang mengikuti bentuk tapak yang ada.
2.Luas permukaan dasar bangunan yang kecil, yaitu pertimbangan mendesain bangunan secara vertikal.
3.Menggunakan material lokal dan material yang tidak merusak lingkungan.
D. Respect for User (Memperhatikan pengguna bangunan)
Antara pemakai dan green architecture mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Kebutuhan akan green architecture harus memperhatikan kondisi pemakai yang didirikan di dalam perencanaan dan pengoperasiannya.
E. Limitting New Resources (Meminimalkan Sumber Daya Baru)
Suatu bangunan seharusnya dirancang mengoptimalkan material yang ada dengan meminimalkan penggunaan material baru, dimana pada akhir umur bangunan dapat digunakan kembali unutk membentuk tatanan arsitektur lainnya.
F. Holistic
Memiliki pengertian mendesain bangunan dengan menerapkan 5 poin di atas menjadi satu dalam proses perancangan. Prinsip-prinsip green architecture pada dasarnya tidak dapat dipisahkan, karena saling berhubungan satu sama lain. Tentu secar parsial akan lebih mudah menerapkan prinsip-prinsip tersebut. Oleh karena itu, sebanyak mungkin dapat mengaplikasikan green architecture yang ada secara keseluruhan sesuai potensi yang ada di dalam site.
SUMBER : http://ndyteen.blogspot.com/2012/07/green-architecture-arsitektur-hijau.html
Saturday, October 6, 2012
Dunia sambut konsep kota hijau Indonesia
London (ANTARA News) - Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Djoko Kirmanto mengatakan konsep kota hijau dalam Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH) di Indonesia mendapat sambutan positif dunia internasional. Hal itu disampaikan Menteri Djoko Kirmanto dalam pertemuan 48th The International Society of City and Regional Planners (ISOCARP) Congress, anggota asosiasi para perencana dan arsitek tata kota dari sekitar 80 negara di dunia, demikian Sekretaris Dua Fungsi Pensosbud KBRI Moskow, Enjay Diana kepada ANTARA London, Sabtu. Kongres bertema "Fast forward: Planning in a (hyper) dynamic urban context" berlangsung selama tiga hari dari tanggal 10--13 September di Kota Perm yang berjarak sekitar 1.530 km dari Moskow ke arah Siberia bertujuan untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman terkini mengenai penataan ruang kota.
Lebih lanjut Menteri mengatakan P2KH itu merupakan penataan ruang sebagai langkah untuk mengendalikan pembangunan guna terwujudnya keseimbangan baru bagi kehidupan masyarakat di perkotaan dan pedesaan sehingga tercipta pemukinan yang nyaman. Gagasan Indonesia mengenai P2HK mendapatkan tanggapan positif dari berbagai negara peserta kongres seperti China, Mesir dan Rusia yang berkeinginan pula untuk menjalin kerjasama bidang penataan ruang perkotaan.
Di sela-sela kongres, Menteri Djoko Kirmanto bertemu dengan Russian Urban Planning Agency (RUPA) untuk menjajagi peluang kerjasama penguatan peran dan kualitas profesi perencana di Indonesia ujar. Melalui kongres tersebut Indonesia bersama negara-negara lainnya berkeinginan untuk bertukar pengalaman dan pengetahuan tentang penataan ruang perkotaan, serta mengembangkannya menjadi kerjasama yang lebih nyata. Menurut Djoko Kirmanto, P2HK untuk menciptakan pembangunan di kawasan perkotaan menjadi wilayah yang layak huni, dan pengembangan wilayah pedesaan untuk keseimbangan pembangunan dalam mengatasi masalah urbanisasi. "Penataan ruang sebagai langkah untuk terwujudnya keseimbangan baru bagi kehidupan masyarakat Indonesia yang dirasakan belum memadai antara perkotaan dan pedesaan," ujarnya.
Saat ini terdapat 60 Kabupaten/Kota di Indonesia yang berkomitmen untuk mewujudkan kota hijau, yang tidak hanya menyediakan ruang terbuka hijau, tetapi juga meningkatkan kualitas pelayanan infrastruktur lainnya, seperti air, sampah, energi, transportasi dan bangunan hijau. Sementara itu Dubes RI untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus Djauhari Oratmangun mengatakan banyak hal yang dapat dipelajari dari Rusia, khususnya kota Moskow mengenai penataan ruang perkotaan. Moskow adalah kota yang menarik, penataan ruang perkotaannya dapat dijadikan contoh, seperti perumahan, transportasi umum, lingkungan, termasuk taman-taman kota, kebersihan, sungai dan juga penanganan banjir, demikian Dubes Djauhari Oratmangun. Pertemuan organisasi non pemerintah yang diakui PBB dan Dewan Eropa, ISOCARP yang ke-49 berikutnya dengan tema "Penentuan batas-batas kota" akan diselenggarakan di Brisbane, Australia.
Lebih lanjut Menteri mengatakan P2KH itu merupakan penataan ruang sebagai langkah untuk mengendalikan pembangunan guna terwujudnya keseimbangan baru bagi kehidupan masyarakat di perkotaan dan pedesaan sehingga tercipta pemukinan yang nyaman. Gagasan Indonesia mengenai P2HK mendapatkan tanggapan positif dari berbagai negara peserta kongres seperti China, Mesir dan Rusia yang berkeinginan pula untuk menjalin kerjasama bidang penataan ruang perkotaan.
Di sela-sela kongres, Menteri Djoko Kirmanto bertemu dengan Russian Urban Planning Agency (RUPA) untuk menjajagi peluang kerjasama penguatan peran dan kualitas profesi perencana di Indonesia ujar. Melalui kongres tersebut Indonesia bersama negara-negara lainnya berkeinginan untuk bertukar pengalaman dan pengetahuan tentang penataan ruang perkotaan, serta mengembangkannya menjadi kerjasama yang lebih nyata. Menurut Djoko Kirmanto, P2HK untuk menciptakan pembangunan di kawasan perkotaan menjadi wilayah yang layak huni, dan pengembangan wilayah pedesaan untuk keseimbangan pembangunan dalam mengatasi masalah urbanisasi. "Penataan ruang sebagai langkah untuk terwujudnya keseimbangan baru bagi kehidupan masyarakat Indonesia yang dirasakan belum memadai antara perkotaan dan pedesaan," ujarnya.
Saat ini terdapat 60 Kabupaten/Kota di Indonesia yang berkomitmen untuk mewujudkan kota hijau, yang tidak hanya menyediakan ruang terbuka hijau, tetapi juga meningkatkan kualitas pelayanan infrastruktur lainnya, seperti air, sampah, energi, transportasi dan bangunan hijau. Sementara itu Dubes RI untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus Djauhari Oratmangun mengatakan banyak hal yang dapat dipelajari dari Rusia, khususnya kota Moskow mengenai penataan ruang perkotaan. Moskow adalah kota yang menarik, penataan ruang perkotaannya dapat dijadikan contoh, seperti perumahan, transportasi umum, lingkungan, termasuk taman-taman kota, kebersihan, sungai dan juga penanganan banjir, demikian Dubes Djauhari Oratmangun. Pertemuan organisasi non pemerintah yang diakui PBB dan Dewan Eropa, ISOCARP yang ke-49 berikutnya dengan tema "Penentuan batas-batas kota" akan diselenggarakan di Brisbane, Australia.
Sunday, April 22, 2012
Ruang Terbuka Hijau yang Kian Terjepit....
JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah gencarnya pembangunan yang semakin mengepung kota-kota besar, Ruang Terbuka Hijau (RTH) terus menyusut. Betonisasi dari gedung-gedung bertingkat dan mewah terus bertambah, di sisi lain kawasan permukiman kumuh juga semakin banyak.
Berdasarkan catatan Kementerian Perumahan Rakyat, luas permukiman kumuh pada akhir 2004 diperkirakan 54.000 hektar. Pada 2009 lalu bertambah menjadi 57.800 hektar. Sejauh ini, jalan keluar belum juga ditemukan.
Tak terkecuali solusi bagi kurangnya RTH di Jakarta yang masih terus dicari. Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta terus berupaya menambah RTH di Jakarta. Pada tahun ini, penambahan RTH di Jakarta diperkirakan mencapai 20 hektar atau 0,03 persen dari luas Jakarta.
Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta Catarina Suryowati di Balaikota, Jakarta, kepada Kompas.com, Senin (10/10/2011) silam, pernah mengungkapkan bahwa sejak 2010, Pemprov DKI Jakarta menertibkan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Ada 27 lahan SPBU di Jakarta telah dikembalikan fungsinya, dan luasnya mencapai empat hektar.
Saat ini, realisasi RTH di Ibu Kota sudah mencapai 9,8 persen. Dari 27 lahan SPBU yang dikembalikan fungsinya, sebanyak 14 lahan ditertibkan pada tahun lalu. Sementara itu, sebanyak 13 lahan lainnya telah ditertibkan pada 2011. Lahan SPBU yang dikembalikan fungsinya antara lain SPBU Jalan Yos Sudarso, SPBU Jalan Pakubuwono sisi barat, SPBU Jalan Tanah Abang Timur (ABRI), SPBU Jalan Tanah Abang Timur (swasta), SPBU Jalan Mataram Sisi Timur, dan SPBU Jalan Dr Wahidin (ABRI).
Semakin minim
Di Kota Tangerang Selatan, keberadaan RTH juga masih minim. Dari kebutuhan 20 persen sesuai ketetapan pemerintah pusat, wilayah pemekaran Kabupaten Tangerang yang pemerintahannya secara sah berusia enam bulan itu baru menyediakan 9 persen RTH dari luas wilayah 147,19 kilometer persegi. Jumlah itu di luar RTH milik pribadi seluas 10 persen.
"Sisa kekurangan ruang terbuka hijau akan dipenuhi dalam 20 tahun ke depan hingga tahun 2031," kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Tangsel Eddy Adolf Malonda kepada wartawan, Selasa (25/10/2011) silam.
Kurangnya RTH, kata Eddy, akan dilengkapi secara bertahap. Menurut dia, pihaknya tidak bisa langsung memenuhi luasan RTH seperti ketentuan pemerintah pusat.
"Masalahnya, masih banyak aset pemerintah kabupaten yang belum diserahkan kepada Tangsel. Selain itu, untuk membebaskan lahan menjadi ruang terbuka hijau, membutuhkan biaya yang besar," kata Malonda.
Berdasarkan data Dinas Tata Kota dan Permukiman Kota Tangsel, hanya 20 persen dari luas Tangsel, yakni 147,19 kilometer persegi, yang lahannya dikuasai oleh Pemkot Tangsel. Sisanya, lahan dikuasai pengembang mulai dari skala besar, menengah, hingga kecil, dan perorangan.
Kabupaten Bekasi juga demikian. RTH di wilayah ini terus mengalami penyusutan akibat beralih fungsi menjadi kawasan industri, perumahan, dan permukiman. Jumlah luasan RTH di wilayah tersebut saat ini hanya tinggal 4.350 hektare.
Jelas sangat tidak ideal, sebab minimal RTH publik 30 persen dari luas wilayah Kabupaten Bekasi. Menurut Muchlis, mengacu pada UU Tata Ruang No 26 tahun 2007, dengan luas wilayah kabupaten mencapai 127.388 hektar, RTH yang dimiliki minimal 30 persen, atau 38.216 hektar.
Amanat UU
Planolog dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga pemerhati masalah tata kota, Hetifah Sjaifudian, mengatakan, soal RTH sebetulnya sudah menjadi amanat undang-undang tentang penataan ruang yang setidaknya 30 persen. Namun, di kota-kota besar saat ini rata-rata luasan RTH masih di bawah 10 persen, bahkan ada yang masih di bawah 3 persen.
"Padahal selain fungsi lingkungan dan penghijauan, RTH dalam kehidupan perkotaan memiliki fungsi spesial. RTH bisa menjadi prasarana publik terkait dengan pendidikan luar ruang dan meningkatkan social capital (hubungan dan komunikasi antar warga). Lihat, sekarang anak-anak hanya terbiasa berekreasi di dalam ruang seperti mal yang sifatnya inward looking," ujar Hetifah kepada Kompas.com, Senin (16/1/2012).
Ketua Alumni Planologi ITB ini mengatakan, jika banyak RTH dipertahankan, masyarakat dari usia anak-anak sampai dewasa, bahkan lanjut usia (lansia) akan bisa dan biasa melakukan kegiatan luar ruang, seperti olah raga, rekreasi dan melakukan kegiatan sosial di taman-taman kota. Masalahnya, lanjut dia, pemerintah kota punya keterbatasan anggaran untuk membebaskan lahan yang akan dialihfungsikan untuk RTH.
"Tapi yang terpenting dalam kasus-kasus semacam ini adalah penegakan hukum. Masyarakat dan konsumen juga perlu pemberdayaan sehingga memahami hak-hak mereka sebagai warga dan penghuni kota untuk mendaptkan ruang publik," ujarnya.
sumber : http://properti.kompas.com/read/2012/01/16/12161231/Ruang.Terbuka.Hijau.yang.Kian.Terjepit.
Sunday, November 20, 2011
Google Galakkan Mega Proyek "Clean Energy"
KOMPAS.com -
Perusahaan mesin pencari terbesar di dunia saat ini, Google menanamkan
investasinya dalam sejumlah proyek raksasa pembangkit energi ramah
lingkungan. Lalu apa hubungannya Google dengan mega proyek clean energy itu?
Di
Amerika Serikat saat ini beberapa perusahaan IT seperti Yahoo!, Apple,
Facebook, Google, dan Akamai memang menyedot energi sangat besar.
Bayangkan saja, setiap perusahaan itu demi melayani jutaan pengguna
harus memiliki ribuan data center yang tersebar di berbagai wilayah. Berapa banyak listrik yang dibutuhkan?
Organisasi
lingkungan Greenpeace secara rutin memantau penggunaan energi setiap
perusahaan teknologi tersebut. Sampai saat ini, kebanyakan sumber energi
yang dipakai adalah batu bara sehingga hal ini berdampak buruk bagi
bumi. Data rilis terbaru dari Greenpeace menyebutkan bahwa perusahaan
Steve Jobs, Apple, merupakan perusahaan "terkotor" karena mengandalkan
batu bara untuk menghasilkan energi bagi data center mereka. Sementara Yahoo! merupakan perusahaan terbersih. Lalu di mana posisi Google?
Walaupun
bukan yang terbersih, Google menunjukkan komitmen mereka dalam
menghasilkan energi bersih dan terbarukan. Tidak tanggung-tanggung kini
Google telah mengeluarkan dana sebesar 350 juta dollar AS untuk
proyek-proyek clean energy mereka. Dana ini merupakan paling besar yang pernah dikeluarkan oleh perusahaan IT untuk membangun clean energy dan energi terbarukan. Ada tujuh mega proyek Clean Energy Google yang disiapkan.
1. Ivanpah Solar Electric Generating System
Pada
tanggal 11 April 2011 yang lalu, Google secara resmi mengumumkan
tentang invetasi mereka sebesar 168 juta US dollar dalam energi surya di
gurun Mojave California. Google’s Green Business Operations menyepakati
investasi baru senilai 168 juta dollar AS dengan BrightSource Energy
untuk membangun energi listrik tenaga surya baru dan sedang dikembangkan
oleh BrightSource Energi di Gurun Mojave di California. Menurut blog
resmi Google, Brightsource's Ivanpah Solar Electric Generating System
(ISEGS) akan menghasilkan energi sebanyak 370 MW energi surya yang
bersih. Jumlah ini setara dengan mengeluarkan mobil sebanyak 90.000
lebih dari jalan selama umur proyek yang diproyeksikan lebih dari 25
tahun.
2. Caithness Shepherds Flat Wind Farm
Ini
merupakan proyek energi angin terbesar di dunia. Google mengivestasikan
dana sebesar 100 juta dollar AS dalam proyek ini yang diumumkan secara
resmi pada tanggal 18 April 2011. Proyek ini di bangun di kawasan
berangin di Oregon dan direncanakan akan selesai pada tahun 2012. Proyek
ini diperkirakan akan menghasilkan 845 MW energi bersih yang bersumber
dari angin yang akan mampu menerangi paling tidak 235.000 rumah. Proyek
ini menarik bukan hanya karena ukuran dan skalanya yang terbesar, tetapi
juga pada teknologi canggih yang diterapkan dalam proyek Wind Farm ini.
3. Offshore Wind Superhighway
Total
investasi Google dalam proyek ini tidak diketahui, namun diperkirakan
paling tidak lebih jutaan dollar AS. Proyek ini masih terkait dengan
pemanfaatan energi angin, namun berada di lepas pantai. Kemungkinan
energi bersih yang dihasilkan dalam proyek ini adalah 6.000 MW yang
setara dengan 60% keseluruhan energi angin yang dimanfaatkan di AS.
Proyek ini akan mampu melayani paling tidak 1,9 juta rumah tangga.
4. NextEra Energy Resources Wind Project
Pada
bulan Mei tahun 2010 yang lalu Google secara resmi mengeluarkan dana
38,8 juta dollar AS dalam proyek NextEra Energy. Sumber energi masih
sama, yaitu angin dan diperkirakan akan menghasilkan energi sebesar
169,5 MW dan bisa menerangi paling tidak 55.000 rumah tangga. Lokasi
proyek ini berada di sebuah daerah kaya angin di Dakota Utara. Upaya ini
merupakan proyek berikutnya dari Google dalam upaya pengurangan energi
fosil.
5. Kesepakatan 20 Tahun Pembelian Energi dengan NextEra Energy
Google
kembali menyetujui sebuah perjanjian untuk membeli energi terbarukan
dari sumber angin yang dihasilkan oleh NextEra Energy. Besarnya energi
terbarukan yang juga dihasilkan oleh angin ini adalah 114 MW. Dengan
kesepakatan perjanjian yang sangat lama Google membantu perusahaan
penghasil energi angin dalam hal pengembangan dan keuangan untuk
membangun energi terbarukan. Kesepakatan ini kemudian diperbarui lagi,
yaitu pada bulan Juli 2010 yang lalu, Google kembali membeli 100,8 MW
energi bersih dari NextEra Energy yang dihasilkan oleh proyek energi
angin yang lain oleh NextEra Energy. Lokasi proyek baru ini berada di
Oklahoma
6. Energi Panas Bumi
Energi
panas bumi agak kurang dikenal dibandingkan dengan proyek energi angin
yang selama ini menjadi fokus Google. Namun demikian, Google tidak
sungkan untuk menginvestasikan 10 juta dollar AS lebih untuk proyek
panas bumi pada bulan Oktober 2010 yang lalu. Dalam investasi tersebut
481.500 dollar AS merupakan hibah buat Southern Methodist University
untuk melihat potensi panas bumi di sekitar Virginia Barat. Dan ternyata
uang itu terbayar karena di Virginia Barat tersebut terdapat banyak
potensi panas bumi.
Di
Virginia Barat sendiri saat ini terdapat pembangkit listrik batu bara
yang menghasilkan energi sebesar 16.350 MW. Namun jika energi panas bumi
daerah itu pulih sebesar 2%, akan dapat menghasilkan energi bersih
sebesar 18.890 MW.
7. German Solar Power Plant
Selain
di AS, Google juga berinvestasi di Jerman dengan mengeluarkan dana 3,5
juta euro untuk membangun proyek energi surya yang akan menghasikan
energi listrik paling tidak 18,7 MW. Proyek ini berada di dekat kota
Berlin dan tercatat sebagai proyek energi surya terbesar di Jerman dan
akan mampu menerangi paling tidak 5.000 rumah tangga.
sumber : http://www.alpensteel.com/article/51-113-energi-lain-lain/4636-google-galakkan-mega-proyek-qclean-energyq.html
Membangun Rumah di Kota Hijau
KOMPAS.com - Fakta
pemanasan global yang memengaruhi perubahan iklim dan degradasi
kualitas lingkungan hidup manusia telah menyadarkan betapa pentingnya
menyelamatkan kehidupan manusia di Bumi. Berbagai pihak terus bekerja
sama membangun dunia baru yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Para pengembang properti berbagi informasi membangun properti hijau menuju kota hijau. Produk-produk properti hijau diperkenalkan kepada konsumen yang semakin kritis terhadap pengembang yang tidak ramah lingkungan. Ada banyak properti hijau berupa konsep kota taman, kota hijau, kota pohon, rumah kebun, kebun raya, taman hijau, hingga lembah hijau yang membanjiri pasaran telah memesona masyarakat.
Berbagai tren arsitektur bangunan yang sempat populer, mulai dari rumah bergaya tropis, country, mediteranian, hingga minimalis, mulai ditinggalkan konsumen. Para arsitek dan pemilik rumah mulai bekerja sama mengembangkan konsep rumah hunian yang ramah lingkungan dan semakin dicari penghuni.
Rumah ramah lingkungan (rumah hijau) mensyaratkan beberapa hal yang patut dipertimbangkan. Rumah harus dibangun di atas lahan yang memang diperuntukkan bagi kawasan hunian, bukan kawasan hijau (daerah resapan air). Komposisi ruang terbangun dan ruang tidak terbangun disesuaikan dengan peraturan yang berlaku di setiap kawasan. Untuk kawasan hunian, koefisien dasar bangunan (KDB) idealnya maksimal 70 persen sehingga menyediakan koefisien dasar hijau (KDH) mencapai 30 persen.
Sejak perencanaan dan pembangunan rumah, bahan bangunan yang dipakai sebaiknya menggunakan material lokal atau mudah didapat dari daerah terdekat. Kemudahan mendatangkan material setempat akan menghemat biaya transportasi dan turut membantu mengurangi gas emisi karbon kendaraan.
Material lokal akan lebih menyelaraskan karakter bangunan dengan lingkungan sekitar, seperti bangunan ekspos batu kali, batu bata, dan kayu untuk perpaduan kesan alami; atau semen, baja, dan kaca yang menampilkan wajah modern. Interior dan perabot dalam rumah dapat memakai bahan-bahan yang mudah didaur ulang atau barang hasil daur ulang.
Denah bangunan cukup mudah diikuti, mengalirkan sirkulasi cahaya dan udara alami dengan leluasa. Peletakan pintu, jendela, void, dan lubang angin yang tepat. Ruang-ruang dalam rumah (ruang tamu, ruang keluarga, kamar tidur, ruang makan, dapur) terasa cukup terang, tetapi tidak terlalu panas atau lembab. Udara segar mengembus ke segala penjuru ruangan, cukup dengan kipas angin, pemakaian AC hanya pada waktu tertentu.
Hemat listrik
Krisis listrik yang byarpet dan semakin mahal mendorong semua pihak untuk mulai membiasakan menggunakan energi alternatif yang ramah lingkungan. Meski belum banyak berkembang, warga terus berupaya mencari tenaga listrik yang (kalau bisa) mudah dan murah. Pilihan jatuh pada pemasangan panel- panel sel surya di atap bangunan untuk memanaskan air dan beberapa titik lampu.
Di kawasan pesisir pantai, dilakukan pengembangan kincir angin untuk memasok tenaga listrik. Biogas juga sudah dilirik untuk menerangi lampu atau memasak. Alternatif pengembangan energi listrik rumah ramah lingkungan harus terus dilakukan agar rumah tidak tergantung banyak pada pasokan listrik PLN di masa depan.
Ketersediaan KDH 30 persen lebih memberikan peluang untuk rumah dan penghuni dapat bernapas lega. Ruang hijau dikembangkan menjadi taman dengan konsep taman sesuai kebutuhan penghuni, seperti taman terapi/ refleksi/relaksasi, taman air, taman bunga, atau sesuai arsitektur bangunan—taman tropis, taman minimalis, taman jepang, dan taman mediteranian.
Taman yang cantik ini memberikan sumbangan ekologis kepada kota sebagai ruang terbuka hijau privat bagian dari ruang terbuka hijau kota. Penghuni berhak memperoleh insentif, seperti pengurangan pajak, pemotongan biaya listrik, telepon, dan kemudahan lain, dari pemerintah sebagai apresiasi pemerintah atas partisipasi warga dalam menambah hijau kota.
Para arsitek mulai rajin membangun atap hijau (green roof, roof garden) sebagai upaya menggantikan lahan (hijau) yang terbangun. Di kota-kota besar yang padat dan sumpek, kehadiran atap-atap hijau bak oase sejuk di tengah-tengah hutan beton kota. Belum cukup, dinding-dinding rumah juga dibalut tanaman merambat menjadi dinding hijau (green wall).
Bangunan yang diselimuti tanaman terbukti mampu memengaruhi iklim mikro lingkungan sekitar. Hawa panas turun. Taman menjadi insulasi atap alami. Radiasi sinar matahari diserap tanaman. Gas polutan diolah tanaman menjadi oksigen. Air hujan dapat ditampung, diserap, dan dialirkan ke dalam pipa serta diresapkan ke dalam sumur resapan air.
Pengolahan sampah
Ruang dalam rumah menjadi lebih sejuk dan nyaman (pemakaian AC dapat dikurangi). Penghuni dapat beristirahat, melihat langit biru di siang hari, menatap bintang berkilau di malam hari, atau membuat pesta taman di atas sambil menikmati pemandangan lanskap kota dari atap rumah. Suatu pengalaman yang sangat langka bagi warga kota.
Rumah ramah lingkungan menyerapkan air yang jatuh sebanyak-banyaknya ke dalam tanah (zero run off). Rumah membangun sistem saluran air bersih, air kotor, dan air limbah dibuat terpisah. Air bersih dari pompa atau PAM langsung dialirkan ke bak penampung air. Mandi sudah memakai shower. Bak-bak air mulai banyak ditiadakan karena dianggap mandi dengan gayung lebih boros air.
Air bekas pakai mandi atau mencuci sayuran didaur ulang menjadi air untuk membilas kloset, menyiram tanaman, atau mencuci kendaraan. Air bekas cuci pakaian atau alat makan ditampung, disaring (dinetralisasi), dan diresapkan secara alami ke dalam sumur resapan air yang dilengkapi filter alami (pasir, kerikil, ijuk, pecahan bata/genteng). Air kotor yang dialirkan ke dalam septic tank diproses tersendiri.
Pengolahan sampah juga dilakukan dengan memisahkan sampah organik dan anorganik sejak dari sumbernya (zero waste). Sisa sayuran, buah-buahan, dan makanan diolah menjadi sampah organik untuk memupuki tanaman di taman rumah. Barang bekas pakai dipilih dan dipilah menjadi barang siap pakai untuk fungsi baru yang lain atau disisihkan untuk diberikan kepada pemulung. Semua penghuni rumah diajak terlibat dalam pengelolaan sampah.
Jangan lupa, jika rumah dekat lokasi transportasi umum (bus atau kereta api), penghuni diajak membiasakan diri berjalan kaki dan atau bersepeda untuk menuju ke tempat kegiatan sehari-hari, terutama yang berjarak dekat. Lebih sehat, lebih ramah lingkungan. Jalur pejalan kaki yang lebar, nyaman, dan teduh di permukiman dan kota juga semakin mendorong orang untuk berjalan kaki. Penyediaan jalur sepeda juga merupakan salah satu wujud dari kota yang hijau.
Para pengembang properti berbagi informasi membangun properti hijau menuju kota hijau. Produk-produk properti hijau diperkenalkan kepada konsumen yang semakin kritis terhadap pengembang yang tidak ramah lingkungan. Ada banyak properti hijau berupa konsep kota taman, kota hijau, kota pohon, rumah kebun, kebun raya, taman hijau, hingga lembah hijau yang membanjiri pasaran telah memesona masyarakat.
Berbagai tren arsitektur bangunan yang sempat populer, mulai dari rumah bergaya tropis, country, mediteranian, hingga minimalis, mulai ditinggalkan konsumen. Para arsitek dan pemilik rumah mulai bekerja sama mengembangkan konsep rumah hunian yang ramah lingkungan dan semakin dicari penghuni.
Rumah ramah lingkungan (rumah hijau) mensyaratkan beberapa hal yang patut dipertimbangkan. Rumah harus dibangun di atas lahan yang memang diperuntukkan bagi kawasan hunian, bukan kawasan hijau (daerah resapan air). Komposisi ruang terbangun dan ruang tidak terbangun disesuaikan dengan peraturan yang berlaku di setiap kawasan. Untuk kawasan hunian, koefisien dasar bangunan (KDB) idealnya maksimal 70 persen sehingga menyediakan koefisien dasar hijau (KDH) mencapai 30 persen.
Sejak perencanaan dan pembangunan rumah, bahan bangunan yang dipakai sebaiknya menggunakan material lokal atau mudah didapat dari daerah terdekat. Kemudahan mendatangkan material setempat akan menghemat biaya transportasi dan turut membantu mengurangi gas emisi karbon kendaraan.
Material lokal akan lebih menyelaraskan karakter bangunan dengan lingkungan sekitar, seperti bangunan ekspos batu kali, batu bata, dan kayu untuk perpaduan kesan alami; atau semen, baja, dan kaca yang menampilkan wajah modern. Interior dan perabot dalam rumah dapat memakai bahan-bahan yang mudah didaur ulang atau barang hasil daur ulang.
Denah bangunan cukup mudah diikuti, mengalirkan sirkulasi cahaya dan udara alami dengan leluasa. Peletakan pintu, jendela, void, dan lubang angin yang tepat. Ruang-ruang dalam rumah (ruang tamu, ruang keluarga, kamar tidur, ruang makan, dapur) terasa cukup terang, tetapi tidak terlalu panas atau lembab. Udara segar mengembus ke segala penjuru ruangan, cukup dengan kipas angin, pemakaian AC hanya pada waktu tertentu.
Hemat listrik
Krisis listrik yang byarpet dan semakin mahal mendorong semua pihak untuk mulai membiasakan menggunakan energi alternatif yang ramah lingkungan. Meski belum banyak berkembang, warga terus berupaya mencari tenaga listrik yang (kalau bisa) mudah dan murah. Pilihan jatuh pada pemasangan panel- panel sel surya di atap bangunan untuk memanaskan air dan beberapa titik lampu.
Di kawasan pesisir pantai, dilakukan pengembangan kincir angin untuk memasok tenaga listrik. Biogas juga sudah dilirik untuk menerangi lampu atau memasak. Alternatif pengembangan energi listrik rumah ramah lingkungan harus terus dilakukan agar rumah tidak tergantung banyak pada pasokan listrik PLN di masa depan.
Ketersediaan KDH 30 persen lebih memberikan peluang untuk rumah dan penghuni dapat bernapas lega. Ruang hijau dikembangkan menjadi taman dengan konsep taman sesuai kebutuhan penghuni, seperti taman terapi/ refleksi/relaksasi, taman air, taman bunga, atau sesuai arsitektur bangunan—taman tropis, taman minimalis, taman jepang, dan taman mediteranian.
Taman yang cantik ini memberikan sumbangan ekologis kepada kota sebagai ruang terbuka hijau privat bagian dari ruang terbuka hijau kota. Penghuni berhak memperoleh insentif, seperti pengurangan pajak, pemotongan biaya listrik, telepon, dan kemudahan lain, dari pemerintah sebagai apresiasi pemerintah atas partisipasi warga dalam menambah hijau kota.
Para arsitek mulai rajin membangun atap hijau (green roof, roof garden) sebagai upaya menggantikan lahan (hijau) yang terbangun. Di kota-kota besar yang padat dan sumpek, kehadiran atap-atap hijau bak oase sejuk di tengah-tengah hutan beton kota. Belum cukup, dinding-dinding rumah juga dibalut tanaman merambat menjadi dinding hijau (green wall).
Bangunan yang diselimuti tanaman terbukti mampu memengaruhi iklim mikro lingkungan sekitar. Hawa panas turun. Taman menjadi insulasi atap alami. Radiasi sinar matahari diserap tanaman. Gas polutan diolah tanaman menjadi oksigen. Air hujan dapat ditampung, diserap, dan dialirkan ke dalam pipa serta diresapkan ke dalam sumur resapan air.
Pengolahan sampah
Ruang dalam rumah menjadi lebih sejuk dan nyaman (pemakaian AC dapat dikurangi). Penghuni dapat beristirahat, melihat langit biru di siang hari, menatap bintang berkilau di malam hari, atau membuat pesta taman di atas sambil menikmati pemandangan lanskap kota dari atap rumah. Suatu pengalaman yang sangat langka bagi warga kota.
Rumah ramah lingkungan menyerapkan air yang jatuh sebanyak-banyaknya ke dalam tanah (zero run off). Rumah membangun sistem saluran air bersih, air kotor, dan air limbah dibuat terpisah. Air bersih dari pompa atau PAM langsung dialirkan ke bak penampung air. Mandi sudah memakai shower. Bak-bak air mulai banyak ditiadakan karena dianggap mandi dengan gayung lebih boros air.
Air bekas pakai mandi atau mencuci sayuran didaur ulang menjadi air untuk membilas kloset, menyiram tanaman, atau mencuci kendaraan. Air bekas cuci pakaian atau alat makan ditampung, disaring (dinetralisasi), dan diresapkan secara alami ke dalam sumur resapan air yang dilengkapi filter alami (pasir, kerikil, ijuk, pecahan bata/genteng). Air kotor yang dialirkan ke dalam septic tank diproses tersendiri.
Pengolahan sampah juga dilakukan dengan memisahkan sampah organik dan anorganik sejak dari sumbernya (zero waste). Sisa sayuran, buah-buahan, dan makanan diolah menjadi sampah organik untuk memupuki tanaman di taman rumah. Barang bekas pakai dipilih dan dipilah menjadi barang siap pakai untuk fungsi baru yang lain atau disisihkan untuk diberikan kepada pemulung. Semua penghuni rumah diajak terlibat dalam pengelolaan sampah.
Jangan lupa, jika rumah dekat lokasi transportasi umum (bus atau kereta api), penghuni diajak membiasakan diri berjalan kaki dan atau bersepeda untuk menuju ke tempat kegiatan sehari-hari, terutama yang berjarak dekat. Lebih sehat, lebih ramah lingkungan. Jalur pejalan kaki yang lebar, nyaman, dan teduh di permukiman dan kota juga semakin mendorong orang untuk berjalan kaki. Penyediaan jalur sepeda juga merupakan salah satu wujud dari kota yang hijau.
Yuk Wujudkan Kotamu Jadi Kota Hijau!
Pasti anda memimpikan kota yang ditinggali itu hijau alias nyaman,
sejuk dan tak macet. Transportasinya pun layak dan memadai. Lalu juga
bebas dari banjir! Ini memang impian setiap orang!
Nah untuk mewujudkan itu, tata ruang dan
ruang terbuka hijau suatu wilayah harus dikelola serta diatur dengan
baik supaya ada keseimbang antara ekosistem hayati dengan lingkungan
yang terbangun serta penduduk yang mendiami suatu wilayah. Kementerian
Pekerjaan Umum tengah berupaya untuk mewujudkan kota-kota yang ada di
Indonesia menjadi kota hijau.
“PU terus mendorong supaya setiap
wilayah atau kota ada Ruang Terbuka Hijau 30%,” ujar Lina Marlia
Direktur Pembinaan Penataan Ruang Daerah Wilayah I Direktorat Jenderal
Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum.
Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan
Umum sekitar 52,03 persen penduduk Indonesia tinggal di perkotaan dan
diperkirakan meningkat menjadi kurang lebih 68 persen pada tahun 2025.
Pertumbuhan kota secara cepat tersebut dapat berdampak terhadap
timbulnya berbagai permasalahan perkotaan seperti macet, banjir,
pemukiman kumuh, kemiskinan, serta menurunnya luasan ruang terbuka
hijau. Oleh karena itu program Kota Hijau yang dipunya Kementerian
Pekerjaan Umum harus sama-sama diwujudkan.
”20% pemerintah, 10% masyarakat,” kata
Lina Marlia. Salah satu caranya dengan memperingati Hari Tata Ruang
(TARU). Tahun ini adalah tahun ke empat Indonesia memperingatinya. Tema
yang diusung kali ini “Empowerment For Green Cities” Pemberdayaan Kota
Hijau.
“Lewat Hari Tata Ruang, kita mencoba menggugah masyarakat untuk berpartisipasi,” tutur Lina Marlia.
Kota hijau bukan berarti semuanya harus
dicat hijau tapi kota yang ramah lingkungan. Memanfaatkan secara
efektif, efisien segala sumber daya, air dan energi termasuk di dalamnya
untuk mengurangi limbah dan penerapan sistem transportasi yang terpadu.
“Limbah dibatasi dan dikelola, rumah
jangan kebanyakan pakai listrik, pake kaca lebar, naik angkutan umum,”
terang Lina Marlia. Ada pula delapan atribut kota hijau yang harus
dikerjakan dan digarap Kementerian Pekerjaan Umum bersama Pemerintah
Daerah dan Kementerian terkat hingga tiga tahun ke depan, yaitu
perencanaan dan rancangan kota hijau, ruang terbuka, pembuangan limbah,
alat transportasi, air bersih, sumber energi, serta bangunan dan
masyarakat peduli lingkungan. “Masyarakat diharapkan memberikan masukan
ke pemda masing-masing,” tambah Lina Marlia.
Kementerian Lingkungan Hidup turut
membantu mewujudkan kota-kota di Indonesia menjadi kota hijau. “Kota
hijau itu maknanya luas, tingkat polusi menurun, kekumuhan gak ada,
DAS-nya baik,” ujar Heru Waluyo Asisten Deputi Kajian Kebijakan Wilayah
dan Sektor Kementerian Lingkungan Hidup.
Beberapa kota saat ini sudah mulai masuk
kategori kota hijau. Misalnya Palembang, Balikpapan dan Surabaya.”Kita
komitmen untuk terus mewujudkan itu,” kata Heru Waluyo. Dalam arti kata
kunci dan Kekuatan dalam mewujudkan kota hijau adalah kebersamaan.
Hal serupa dituturkan Ning Purnomohadi,
Arsitek Lansekap, Pengelolaan SDA & Lingkungan. Kata dia pemerintah
dan non-pemerintah harus saling bahu membahu. Termasuk meningkatkan
kesadaraan semua orang untuk peduli dan bertanggung jawab terhadap
ligkungannya. ”Profesional, arsitek, ahli konstruksi beri masukan ke
pemerintah dan juga masyarakatnya,” tambah Ning Purnomohadi Arsitek
Lansekap, Pengelolaan SDA & Lingkungan.
Dimulai dari Tempat Tinggal
Tinggal di kota besar pasti sulit untuk
menyediakan ruang terbuka hijau di rumahnya. Alasanya mulai dari lahan
terbatas hingga biaya yang mahal. Namun sebetulnya itu bisa disiasati.
“lahan di kota terbatas, tapi bukan berarti gak bisa ada ruang terbuka
hijau,” ujar ujar Lina Marlia Direktur Pembinaan Penataan Ruang Daerah
Wilayah I Direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum.
Efisiensi lahan jadi solusi. ”Tanaman di
atap rumah,” ujar Lina Marlia. Selain itu perlu juga memperhitungan
konstruksi bangunan. ”Kontruksi harus matang,apa-apa saja yang
dibutuhkan” kata Arsitek Lansekap, Pengelolaan SDA & Lingkungan,
Ning Purnomohadi. Yang terpenting adalah ventilasi harus baik, cahaya
matahari bisa masuk dan adanya penggunaan energi alternatif. ”Para
perencana, designer dan juga pemerintah kotanya, harus berpikir,
teknik-teknik apa, klo membangun rumah kayak apa,” terang Ning
Purnomohadi
Yang tidak boleh ketinggalan adalah jadi
diri tiap daerah. Tanamlah pohon sesuai dengan kebutuhan daerahnya.
“Jangan ikut-ikutan menanam pohon yang gak cocok di daerahnya,” tambah
Ning Purnomohadi.
Nah Penanaman pohon di rumah bisa
mengurangi dampak perubahan iklim. “Green roof, menanam di atap rumah,
jadi solusi tepat” sebut Heru Waluyo Asisten Deputi Kajian Kebijakan
Wilayah dan Sektor Kementerian Lingkungan Hidup.
Penegakan Hukum
Dalam UU Penataan Ruang, ada sanksi bagi
pejabat publik atau pemerintah daerah yang mengeluarkan izin tak sesuai
dengan Perda RTRW. “Ada pidana dan perdata, denda sampai 500 juta,”
ujar Lina Marlia Direktur Pembinaan Penataan Ruang Daerah Wilayah I
Direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum.
Dengan sanksi itu diharapakan pemerintah
daerah patuh dan tak melanggar aturan yang ada. ”Sudah kita
sosialisasinya setiap pembangunan di kota, pokoknya RTHnya harus 30%
patuhi pula RTRWnya,” tutur Lina Marlia. Menurut Heru Waluyo Asisten
Deputi Kajian Kebijakan Wilayah dan Sektor Kementerian Lingkungan Hidup,
para pengembang dan pemerintah daerah harus saling bertemu dan
berdiskusi sebelum merencanakan dan membangun suatu wilayahnya. Ini
penting supaya ruang terbuka hijau di suatu wilayah tetap ada.
Pengawasan juga akan kembali digenjarkan untuk memastikan ruang terbuka
hijau di suatu wilayah tak hilang. ”Pengawasan digencarkan,” tutup Heru
Waluyo.
Perbincangan ini kerjasama KBR68H dengan Kementerian Pekerjaan Umum.
Sunday, September 18, 2011
Pendekatan Ekologi pada Rancangan Arsitektur, sebagai upaya mengurangi Pemanasan Global
Oleh:
Wanda Widigdo C,
(Dosen Jurusan Arsitektur,
Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, UK Petra )
wandaw@peter.petra.ac.id
I Ketut Canadarma,
(Dosen Jurusan Arsitektur,
Fakultas Desain dan Teknik Perencanaan, Univ. Pelita Harapan)
Abstrak
Perancangan bangunan, sering kali
kurang memperhatikan keselarasan dengan alam, dalam hal pemanfaatan sumberdaya
alam dan penggunaan teknologi yang tidak
ramah terhadap alam. Oleh karena itu, perancangan bangunan secara arsitektur
mempunyai andil besar memicu pemanasan
global dan berakibat pada turunnya kualitas hidup manusia. Dari semua gejala
alam yang sudah terjadi, kini sudah saatnya perancangan bangunan secara arsitektur,
lebih memahami alam melalui pendekatan
dan pemahaman terhadap perilaku alam lebih dalam agar tidak terjadi kerusakan
alam yang lebih parah. Sasaran utama dari upaya ini adalah tidak memperparah
pemanasan global, melalui upaya rancangan arsitektur yang selaras dengan alam
serta memperhatikan kelangsungan ekosistim, yaitu dengan pendekatan ekologi.
Pendekatan ekologi merupakan cara
pemecahan masalah rancangan arsitektur dengan mengutamakan keselarasan rancangan
dengan alam, melalui pemecahan secara teknis dan ilmiah. Pendekatan ini
diharapkan menghasilkan konsep-konsep perancangan arsitektur yang ramah lingkungan, ikut menjaga kelangsungan
ekosistim, menggunakan energi yang efisien, memanfaatan sumber daya alam yang
tidak dapat diperbarui secara efisien, menekanan penggunaan sumber daya alam
yang dapat diperbarui dengan daur ulang. Semua ini ditujukan bagi kelangsungan ekosistim, kelestarian alam dengan
tidak merusak tanah, air dan udara., tanpa mengabaikan kesejahteraan dan kenyamanan
manusia secara fisik, social dan ekonomi secara berkelanjutan.
Keywords : keselarasan rancangan
dengan alam, pendekatan ekologi, rancangan yang
berkelanjutan.
1. Latar belakang.
Dalam alam, mahluk hidup akan
bersuksesi dalam ekosistimnya dan berupaya mencapai kondisi yang stabil hingga klimaks. Kondisi
stabil dan klimaks terjadi bila hubungan timbal balik antara mahluk hidup dan
lingkungannya berjalan dengan mulus, yaitu berarti semua kebutuhan hidupnya
terpenuhi. Manusia sebagai mahluk hidup juga merupakan ekosistim yang
bersuksesi dan ingin hidup stabil dan
mencapai klimaks. Populasi manusia meningkat dengan cepat disertai dengan
kemanjuan teknologi yang meningkat pesat, maka terjadilah pemanfaatan sumber daya
alam secara besar-besaran dengan teknologi yang paling ekonomis, sehingga menimbulkan dampak yang tidak
semuanya bisa diterima oleh alam.
Kepadatan dan pertumbuhan
penduduk membuat kebutuhan pangan dan lahan menjadi meningkat dan berakibat
pada kerusakan alam dan hutan. Di Indonesia, menurut data dari Green Peace,
setiap 1 jam kerusakan hutan mencapai seluas 300 lapangan bola, hal ini
merupakan faktor utama meningkatnya laju emisi gas rumah kaca ke atmosfer. Padahal hutan merupakan paru-paru bumi dengan
menyerap CO2 dan diolah menjadi O2. Menyusutnya luas hutan membuat konsentrasi
CO2 merupakan salah satu pemicu suhu bumi meningkat. Disamping itu, rusaknya
hutan berarti semua siklus ekosistim yang tergantung pada hutan dan yang
terkandung didalam tanah juga terganggu.
Kepadatan penduduk dibumi juga
meningkatkan industri dan transportasi yang menggunakan bahan bakar yang
berasal dari sumber daya alam tak terperbarui dalam jumlah besar, yaitu energi.
Industri dan transportasi mengeluarkan emisi atau gas buang dari hasil proses
pembakaran energi. Emisi dalam jumlah terbesar adalah CO2 mencapai 80% dari
total gas emisi pembakaran bahan bakar.
Dari parahnya kerusakan hutan dan melambungnya emisi dari gas buang dari
industri dan transportasi membuat konsentrasi CO2 menggantung diudara dan menebalkan
lapisan atmosfer, sehingga panas matahari terperangkap dan mengganggu pelepasan
panas bumi keluar atmosfer. Kondisi ini juga berakibat pada turunnya hujan yang
mengandung asam yang disebut sebagai hujan asam yang membahayakan kelangsungan
mahluk hidup.
Dari semua kondisi di bumi
tersebut suhu permukaan bumi meningkat dan menimbulkan efek yang signifikan
yaitu perubahan iklim yang drastis, dan pemanasan global.. Menurut Al-Gore,
semenjak revolusi industri dalam kurun waktu 20 tahun, suhu bumi meningkat 2
derajat, pada tahun 2100 diperkirakam naik sampai 58 derajat. Pemanasan global
yang terjadi diperkirakan dapat mencairkan es di kutub dan naiknya permukaan
air laut. Menurut Green Peace, akibat
pemanasan global akan mencairkan es di kutub, yang diperkirakan pada tahun
2030, sekitar 72 hektar daerah di Jakarta akan digenangi air. Tahun 2050,
kemungkinan 2000 pulau di Indonesia akan
tenggelam.
Semua kondisi ini diawali oleh
kerusakan ekosistim di alam yang sangat
parah, mulai habisnya sumber daya alam
yang tak terperbarui, dan rusaknya sumber daya alam lainnya. Kondisi
ini merupakan suatu bencana ekologis yang akan mengancam kualitas
hidup manusia karena merupakan
penunjang kehidupan manusia. Pemanasan
global yang terjadi akhir-akhir ini tidak dapat hanya dikurangi dengan upaya
penggunaan energi yang efisien saja, tetapi harus ada upaya lain yang berpihak
pada penggunaan sumber daya alam secara keseluruhan dengan menjaga
keberlangsungan sumber daya alam. Kerusakan alam yang secara ekologis sudah
demikian parah, kini sudah saatnya dipikirkan dengan pendekatan dengan
pengertian kearah ekologi. Manusia diharapkan menjaga dan memelihara
kelestarian alam, pada setiap kegiatannya terutama yang berkaitan sumber daya alam. Upaya tersebut harus
dilakukan oleh setiap manusia disegala kegiatannya untuk menyelamatkan kualitas
alam yang akan menjamin kualitas hidup manusia
Pada setiap rancangan kegiatan manusia termasuk rancangan bangunan
diharapkan juga berpihak pada keselarasan dengan alam, melalui pemahaman
terhadap alam. Pemahaman terhadap alam dengan menggunakan pendekatan ekologis
diharapkan mampu menjaga keseimbangan alam. Demikian pula pada rancangan
bangunan secara arsitektur sangat perlu keselarasan dengan alam karena secara
global bangunan diperkirakan menggunakan 50% sumber daya alam, 40% energi dan
16% air, mengeluarkan emisi CO2 sebanyak 45% dari emisi yang ada. Rancangan
arsitektur juga mengubah tatanan alam menjadi tatanan buatan manusia dengan
sistim-sistim dan siklus-siklis rancangan manusia yang tidak akan pernah
identik dengn sistim-sistim dan siklus-siklus alam
Oleh karena itu pendekatan
rancangan bangunan yang ekologis, yaitu
memahami dan selaras dengan perilaku alam diharapkan dapat memberi kontribusi yang berarti bagi
perlindungan alam dan sumber daya didalamnya sehingga mampu membantu mengurangi
dampak pemanasan global.
2. Pemahaman terhadap Alam.
Dalam lingkungan alam, terdapat
berbagai ekosistim dengan masing-masing
siklus hidupnya, dimana siklus hidup setiap mahmuk hidup mempunyai hubungan timbal balik dengan yang
organik dan anorganik, demikian juga dengan manusia. Manusia untuk kelangsungan
hidupnya juga membutuhkan penunjang kehidupaan yang organik dan anorganik. Yang
organik adalah semua yang berasal dari alam dan dapat kembali kealam,
tetapi yang menjadi masalah
adalah yang anorganik, yaitu penunjang dalam bentuk fisik,
seringkali tidak selaras dengan
sistim alamiah. Ketidak selarasan dengan sistim yang alamiah dapat memicu
berbagai macam perubahan di alam. Oleh karena itu perlu adanya
suatu sikap memahami perilaku
alam yaitu memperhatikan bagaimana ekosistim-ekosistim dialam bersuksesi.
Sistim-sistim di alam pada umumnya mempunyai siklus-siklus tertutup dan apabila
dari siklus tersebut mengalami gangguan sampai batas tertentu
masih mampu untuk beradaptasi.
Tetapi bila sudah melampau batas kemampuan adaptasi, maka akan terjadi
perubahan-perubahan, transformasi dan sebagainya. Perubahan siklus di alam akan
berdampak pada kualitas hidup manusia.
Kebutuhan hidup manusia dalam
bentuk fisik seringkali memanfaatkan sumber daya alam, seperti energi dan bahan
bangunan tetapi juga memberikan dampak yang seringkali
tidak dapat diterima oleh alam.
Apalagi dengan jumlah populasi manusia yang berkembang pesat dan kemajuan
teknologi yang makin canggih. Hal ini
mempercepat turunya kualitas alam dan rusaknya siklus ekosistim didalamnya. Dari sekian banyak
kebutuhan manusia dalam bentuk fisik salah
satunya adalah bangunan serta sarana dan
prasarna sebagai wadah berlindung
dan beraktivitas Bangunan didirikan
berdasarkan rancangan yang dibuat oleh manusia yang seringkali lebih menekankan
pada kebutuhan manusia tanpa memperhatikan dampaknya terhadap alam sekitarnya.
Seharusnya manusia sadar betapa
pentingnya kualitas alam sebagai penunjang kehidupan, maka setiap kegiatan manusia seharusnya didasarkan pada pemahaman
terhadap alam termasuk pada perancangan arsitektur.
Pemahaman
terhadap alam pada rancangan arsitektur adalah
upaya untuk menyelaraskan rancangan dengan alam, yaitu melalui memahami
perilaku alam., ramah dan selaras terhadap alam. Keselarasan dengan alam
merupakan upaya pengelolaan dan menjaga kualitas tanah, air dan udara dari
berbagai kegiatan manusia, agar
siklus-siklus tertutup yang ada pada setiap ekosistim, kecuali energi tetap
berjalan untuk menghasilkan sumber daya alam.
Manusia harus dapat bersikap transenden dalam mengelola alam, dan
menyadari bahwa hidupnya berada secara imanen dialam. Akibat kegiatan atau perubahan pada kondisi alamiah akan
berdampak pada siklus-siklus di alam. Hal ini dimungkinkan adanya perubahan dan
transformasi pada sumber daya alam yang dapat berdampak pada kelangsungan hidup
manusia Pemikiran rancangan arsitektur yang menekankan pada ekologi, ramah
terhadap alam, tidak boleh menghasilkan
bangunan fisik yang membahayakan siklus-siklus tertutup dari ekositim sebagai
sumber daya yang ada ditanah, air dan udara.
Didalam ranah
arsitektur ada pula konsep arsitektur yang menyelaraskan dengan alam melalui
menonjolkan dan melestarikan potensi, kondisi dan sosial budaya setempat atau
lokalitas, disebut dengan arsitektur vernacular. Pada konsep ini rancangan
bangunan juga menyelaraskan dengan alam, melalui bentuk bangunan, struktur
bangunan, penggunaan material setempat, dan sistim utilitas bangunan yang
alamiah serta kesesuaian terhadap iklim setempat. Sehingga dapat dikatakan
arsitektur vernacular, secara tidak langsung juga menggunakan pendekatan
ekologi. Menurut Anselm (2006), bahwa arsitektur vernacular lebih menonjolkan
pada tradisi, sosial budaya masyarakat sebagai ukuran kenyamanan
manusia. Oleh karena itu arsitektur vernacular mempunyai bentuk atau style yang
sama disuatu tempat tetapi berbeda dengan ditempat yang lain, sesuai tradisi
dan sosial budaya masyarakatnya. Contohnya rumah-rumah Jawa dengan bentuk atap
yang tinggi dan bangunan yang terbuka untuk mengatasi iklim setempat dan sesuai
dengan budaya yang ada, kayu sebagai material
setempat dan sedikit meneruskan radiasi matahari.
Arsitektur vernacular keselarasan
terhadap alam sudah teruji dalam kurun waktu yang lama, sehingga sudah
terjadi keselarasan terhadap alam
sekitarnya. Pada arsitektur vernacular, wujud bangunan dan keselarasan terhadap
alam lahir dari konsep social dan budaya setempat.
3. Pendekatan ekologi pada
perancangan arsitektur.
Ada berbagai cara yang dilakukan
dari pendekatan ekologi pada perancangan arsitektur, tetapi pada umumnya mempunyai inti yang sama
, antara lain : Yeang (2006),
me-definisikannya sebagai: Ecological
design, is bioclimatic design, design with the climate of the locality, and low
energy design. Yeang, menekankan pada :
integrasi kondisi ekologi setempat, iklim makro dan mikro, kondisi tapak,
program bangunan, konsep design dan sistem yang tanggap pada iklim, penggunaan
energi yang rendah, diawali dengan upaya perancangan secara pasif dengan
mempertimbangkan bentuk, konfigurasi, façade, orientasi bangunan, vegetasi,
ventilasi alami, warna. Integrasi tersebut dapat tercapai dengan mulus dan
ramah, melalui 3 tingkatan; yaitu yang pertama
integrasi fisik dengan karakter fisik ekologi setempat, meliputi keadaan
tanah, topografi, air tanah, vegetasi, iklim dan sebagainya. Kedua, integrasi sistim-sistim dengan proses alam, meliputi:
cara penggunaan air, pengolahan dan pembuangan limbah cair, sistim pembuangan
dari bangunan dan pelepasan panas dari bangunan dan sebagainya. Yang ketiga
adalah, integrasi penggunaan sumber daya yang mencakup penggunaan sumber daya
alam yang berkelanjutan. Aplikasi dari ketiga integrasi tersebut, dilakukannya
pada
perancangan tempat tinggalnya,
seperti pada gambar :
Menurut Metallinou (2006), bahwa pendekatan ekologi pada rancangan arsitektur atau eko arsitektur bukan merupakan konsep rancangan bangunan hi-tech yang spesifik, tetapi konsep rancangan bangunan yang menekankan pada suatu kesadaran dan keberanian sikap untuk memutuskan konsep rancangan bangunan yang menghargai pentingnya keberlangsungan ekositim di alam. Pendekatan dan konsep rancangan arsitektur seperti ini diharapkan mampu melindungi alam dan ekosistim didalamnya dari kerusakan yang lebih parah, dan juga dapat menciptakan kenyamanan bagi penghuninya secara fisik, sosial dan ekonomi.
Pendekatan ekologi pada
perancangan arsitektur, Heinz Frick (1998), berpendapat bahwa, eko-arsitektur
tidak menentukan apa yang seharusnya
terjadi dalam arsitektur, karena tidak ada sifat khas yang mengikat sebagai
standar atau ukuran baku. Namun mencakup keselarasan antara manusia dan alam.
Eko-arsitektur mengandung juga dimensi waktu, alam, sosio-kultural, ruang dan
teknik bangunan. Ini menunjukan bahwa eko arsitektur bersifat kompleks, padat
dan vital. Eko-arsitektur mengandung bagian-bagian arsitektur biologis
(kemanusiaan dan kesehatan), arsitektur surya, arsitektur bionik (teknik sipil
dan konstruksi bgi kesehatan), serta biologi pembangunan. Oleh karena itu eko
arsitektur adalah istilah holistik yang sangat luas dan mengandung semua bidang
Mendekati masalah perancangan
arsitektur dengan konsep ekologi, berarti ditujukan pada pengelolaan tanah, air
dan udara untuk keberlangsungan ekosistim. Efisiensi penggunaan sumber daya
alam tak terperbarui (energi) dengan
mengupayakan energi alternatif (solar, angin, air, bio). Menggunakan sumber
daya alam terperbarui dengan konsep siklus tertutup, daur ulang dan hemat energi
mulai pengambilan dari alam sampai
pada penggunaan kembali,
penyesuaian terhadap lingkungan sekitar, iklim, sosial-budaya, dan ekonomi.
Keselarasan dengan perilaku alam, dapat dicapai dengan konsep perancangan
arsitektur yang kontekstual, yaitu pengolahan
perancangan tapak dan bangunan yang sesuai potensi setempat. termasuk
topografi, vegetasi dan kondisi alam lainnya.
Material yang dipilih harus dipertimbangkan hemat energi mulai dari
pemanfaatan sebagai sumber daya alam sampai pada penggunaan di bangunan dan
memungkinkan daur ulang (berkelanjutan) dan limbah yang dapat sesuai dengan
siklus di alam. Konservasi sumberdaya alam dan keberlangsungan siklus-siklus
ekosistim di alam, pemilihan dan pemanfaatan bahan bangunan dengan menekankan
pada daur ulang, kesehatan penghuni dan dampak pada alam sekitarnya, energi yang efisien, dan
mempertahankan potensi setempat. Keselarasan rancangan arsitektur dengan alam
juga harus dapat menjaga kelestarian alam, baik vegetasi setempat maupun mahluk
hidup lainnya, dengan memperluas area hijau yang diharapkan dapat meningkatkan
penyerapan CO2 yang dihasilkan kegiatan manusia, dan melestarikan habitat
mahluk hidup lain.
Ukuran kenyamanan penghuni secara fisik, sosial dan
ekonomi, dicapai melalui penggunaan sistim-sistim dalam bangunan yang alamiah,
ditekankan pada sistim-sistim pasif,
pengendalian iklim dan keselarasan dengan lingkungannya. Bentuk dan
orientasi bangunan didasarkan pada selaras dengan alam sekitarnya, kebutuhan penghuni dan
iklim, tidak mengarah pada bentuk bangunan atau
style tertentu, tetapi mencapai
keselarasan dengan alam dan kenyamanan penghuni dipecahkan secara teknis dan
ilmiah. Untuk mendapatkan hasil
rancangan yang mampu selaras dan sesuai dengan perilaku alam, maka semua
keputusan dari konsep perancangan harus melalui analisis secara teknis dan
ilmiah Pemikiran dan pertimbangan yang dilakukan memerlukan pemikiran yang
interdisiplin dan holistic karena sangat kompleks dan mencakup berbagai macam
keilmuan.
Dari berbagai pendapat pada
perancangan arsitektur dengan pendekatan ekologi, pada intinya adalah,
mendekati masalah perancangan arsitektur dengan menekankan pada keselarasan bangunan dengan perilaku alam,
mulai dari tahap pendirian sampai usia bangunan habis. Bangunan sebagai
pelindung manusia yang ketiga harus nyaman bagi penghuni, selaras dengan
perilaku alam, efisien dalam memanfatkan sumber daya alam, ramah terhadap alam.
Sehingga perencanaannya perlu memprediksi kemungkinan-kemungkinan ketidak
selarasan dengan alam yang akan timbul dimasa bangunan didirikan, beroperasi
sampai tidak digunakan, terutama dari penggunaan energi, pembuangan limbah dari
sistim-sistim yang digunakan dalam bangunan. Semua keputusan yang diambil harus
melalui pertimbangan secara teknis dan ilmiah yang holistik dan
interdisipliner. Tujuan perancangan arsitektur melalui pendekatan arsitektur
adalah upaya ikut menjaga keselarasan bangunan rancangan manusia dengan alam
untuk jangka waktu yang panjang. Keselarasan ini tercapai melalui kaitan dan
kesatuan antara kondisi alam, waktu, ruang dan kegiatan manusia yang menuntut
perkembangan teknologi yang mempertimbangkan nilai-kilai ekologi, dan merupakan
suatu upaya yang berkelanjutan.
4. Kesimpulan.
Pada pendekatan ekologi, ada
berbagai macam sudut pandang dan penekanan, tetapi semua mempunyai arah dan
tujuan yang sama, yaitu konsep
perancangan dengan :
1. Mengupayakan terpeliharanya sumber daya alam, membantu
mengurangi dampak yang lebih parah dari pemanasan global, melalui pemahaman
prilaku alam.
2. Mengelola tanah, air dan udara untuk menjamin
keberlangsungan siklus-siklus ekosistim didalamnya, melalui sikap transenden
terhadap alam tanpa melupakan bahwa manusia adalan imanen dengan alam.
3. Pemikiran dan keputusan dilakukan secara holistik, dan kontekstual
4. Perancangan
dilakukan secara teknis dan ilmiah.
5. Menciptakan kenyamanan bagi penghuni secara fisik,
sosial dan ekonomi melalui sistim-sistim dalam bangunan yang selaras dengan
alam, dan lingkungan sekitarnya.
6. Penggunaan sistim-sistim bangunan yang hemat energi,
diutamakan penggunaan sistim-sistim pasif (alamiah), selaras dengan iklim setempat, daur ulang dan
menggunakan potensi setempat.
7. Penggunaan material yang ekologis, setempat, sesuai
iklim setempat, menggunakan energi yang hemat mulai pengambilan dari alam
sampai pada penggunaan pada bangunan dan kemungkinan daur ulang.
8. Meminimalkan dampak negatif pada alam, baik dampak dari
limbah maupun kegiatan.
9. Meningkatkan penyerapan gas buang dengan memperluas dan
melestarikan vegetasi dan habitat mahluk
hidup
10. Menggunakan
teknologi yang mempertimbangkan nilai-nilai ekologi.
11. Menuju
pada suatu perancangan bangunan yang berkelanjutan.
Dari pemikiran pendekatan diatas
akan muncul pertimbangan-pertimbangan yang sangat kompleks dan saling
berhubungan secara timbal balik. Oleh karena itu dalam pendekatan
ekologis memerlukan pemecahan
secara interdisipliner, yaitu keterlibatan berbagai macam disiplin ilmu untuk
mendapatkan hasil perancangan yang optimal bagi manusia dan alam.
Referensi:
Agoes Soegianto, (2005), Ilmu
Lingkungan, sarana menuju masyarakat berkelanjutan, Airlangga University Press,
Surabaya
Broadbent G, Brebia CA, (ed)
(2006), Eco-Architecture, harmonization
between architecture and nature, WIT Press, Southampton, UK.
Burnie D, (1999), Get a Grip on
Ecology, The Ivy Press Limited, UK
Frick H, FX Bambang Suskiyanto,
(1998), Dasar-dasar Eko-arsitektur, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Frick H, Tri Hesti Mulyani,
(2006), Arsitektur Ekologis, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Krusche P und M, Althaus D,
Gabriel I, (1982), Okologisches Bauen,
herausgegeben vom umweltbundesamt, Bauverlag GMBH, Weisbaden und Berlin.
Mackenzie LD, Masten SJ, (2004),
Principles of Environmental Engineering and Science, Mc Graw Hill, Singapore
Subscribe to:
Posts (Atom)
Entri Populer
-
1. Ekologi Manusia dan Pembangunan Secara harafiah, ekologi berarti ilmu tentang makhluk hidup dalam rumahnya atau dapat juga diartikan seba...
-
Oleh: Wanda Widigdo C, (Dosen Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, UK Pet...
-
Tanggal 11 September 2007 di Klub Rasuna, Rasuna Epicentrum-Jakarta Selatan, Majalah HousingEstate bekerjasama dengan DPP Real Estat Indo...
-
Konsep ‘green architecture’ atau arsitektur hijau menjadi topik yang menarik saat ini, salah satunya karena kebutuhan untuk memberdayakan po...
-
KESELARASAN hidup manusia dan alam terangkum dalam konsep arsitektur hijau. Konsep yang kini tengah digalakkan dalam kehidupan manusia ...
-
Prasasto Satwiko Program Magister Teknik Arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta Seminar Nasional Inovasi Pengelolaan & Pendidikan A...
-
Daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain. Penentuan daya ...
-
Ruang Terbuka Hijau (RTH) memegang peran penting dalam pembangunan perkotaan, terutama terkait dengan merancang masa depan perkotaan. U...
-
Ketika krisis energi berlangsung, ada seorang teman yang menanyakan," dapatkah kita menciptakan energi alternatif?" bila jawabann...




